Salman Mujahid's Blog

Inspiring Our World

Tugas Kuliah Rancangan Teknik

Penggunaan rumah tanaman dalam budidaya tanaman dapat mempermudah pengendalian sejumlah faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Faktor lingkungan tersebut antara lain adalah suhu udara, cahaya matahari, kelembaban udara, kecepatan angin, dan unsur hara. Maka dari itu perlu untuk menggunakan bangunan rumah tanaman bagi tanaman tomat yang tergolong tanaman hortikultura, ditambah lagi dengan sifat tanaman tomat yang peka terhadap yang sedikit kekurangan zat-zat hara, terutama unsur nitrogen (zat lemas) (Sunarjono, 2003).

Optimasi untuk pemilihian sesuatu dengan kendala yang menyertainya, menjadi suatu hal yang penting untuk dapat menentukan pilihan terbaik dengan keterbatasan yang ada. Kasus pada tugas ini adalah bagaimana mendapatkan jumlah baris dan kolom tanaman tomat, sehingga akan menghasilkan luas yang optimum dari perkalian antara panjang dan lebar greenhouse yang didapatkan dari jumlah baris dan kolom tanaman tomat yang telah didapat.

berikut adalah gambar dari greenhouse:

http://dc594.4shared.com/img/1fUzfZnZ/s7/142bd2bddf0/gambar_greenhouse_salman.jpg?async&rand=0.2735767250539458

Cerita inspirasi 2

Pada kali ini, saya ingin berbagi cerita mengenai teman saya semasa di sekolah menengah pertama dulu.Semoga cerita ini tidak hanya menginspirasi bagi saya, tetapi juga dapat menginspari para pembaca blog ini pada umumnya.

Sebut saja namanya Muhtadi. Dia siswa yang cerdas dan memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Kebiasaan saya dari dulu hingga saat ini adalah mencari tahu bagaimana seseorang bisa menjadi seperti ini, mengapa seseorang bisa seperti itu. Mengapa seseorang bisa memiliki nilai bagus, dan mengapa pula seseoang bisa memperolaeh nilai-nilai yang rendah.

Saya tertarik untuk mengetahui bagaimana teman saya yang satu ini bisa menjadi siswa yang sebegitu brilian. Sosoknya yang cenderung pendiam, dan tidak terlalu aktif di kelas, menimbulkan pertanyaan di benak saya, bagaimana anak ini bisa menangkap materi pelajaran sebegitu kuat, padahal ada anak yang lebih aktif tetapi tidak memiiliki nilai yang lebih dari Muhtadi ini.

Saya terus mencoba untuk mencari tahu. Mulai dari menanyakan tentang dia secara ringan, sampai mengamati apa yang dia lakukan tiap hari (kami dulu bersekolah di salah satu boarding school di daerah Bekasi). Sampai akhirnya saya menemukan hal-hal yang tidak  biasanya teman-teman dan saya lakukan, tetapi dilakukan oleh Muhtadi ini. Ternyata Muhtadi sering menanyakan apa yang tidak dimengerti saat di kelas, dan juga menanyakan hubungannya materi itu dengan materi lain yang sebenarnya belum menjadi pembahasan anak-anak yang masih mengenyam pendidikan sekolah menengah pertama.

Saya penasaran dengan apa yang biasa Muhtadi lakukan itu. Saya akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan kepada dia langsung mengenai kebiasaannya itu. Jawaban Muhtadi cukup mengagetkan saya saat itu. Dia berkata seperti ini: “Saya menganggap materi-materi ini bukanlah suatu kewajiban yang harus dipenuhi sebagai syarat agar bisa mendapatkan nilai yang bagus, tetapi saya mengaggap materi-materi ini sebagai kebutuhan saya dalam memahami dan mengaplikasikan materi selanjutnya yang berdasar pada materi-materi ini terlebih dahulu”.

Di saat saya dan teman-teman lain berorientasi bagaimana dari materi itu, mendapat nilai yang sebagus-bagusnya, tetapi Muhtadi memiliki pandangan sebrilian itu. Pandangan yang melebihi jauh anak-anak seusiannya.

Cerita Inspirasi 1

Pada kesempatan kali ini, saya ingin menceritakan sebuah kisah yang menurut saya cukup menginspirasi bagi diri saya, yaitu kisah mengenai kesuksesan Elang Gumilang.

Semangat entrepeneurship atau kewirausahaan seakan tercermin dari perjalanan hidup Elang. Bagaikan burung yang selalu ingin terbang mengepakkan sayapnya setinggi mungkin, Elang tak pernah melupakan untuk melihat Bumi.Bagi Elang, seluruh perjalanan hidupnya yang dibilang sukses meniti karier saat masa studinya yang hampir rampung di Fakultas Ekonomi Manajemen IPB hanyalah kebetulan belaka.Semangat kewirausahaan itu ternyata sudah dimulai sejak masa sekolah menengah umum (SMU). Tahun 2000, sambil menikmati masa-masa indah sekolahnya, Elang sudah berpikir untuk bisa memiliki uang dari hasil jerih payahnya sendiri.Diam-diam Elang berkeliling menjadi penjaja kue donat dan roti. Lumayan juga, setiap hari dia bisa mengantongi setidaknya Rp. 50.000.Setiap hari 10 boks donat, masing-masing berisi 12 buah, dan beberapa roti dibawa ke sekolah untuk ditawarkan ke teman-temannya. Namun, kegiatan iseng-iseng itu tanpa disangka akhirnya ketahuan orangtuanya. Kemarahan orangtuanya tidak membuat Elang berkecil hati. Semangat kewirausahaan itu seakan mendesak untuk terus direalisasikan.Secara kebetulan, begitulah Elang berulang kali menyebut perjalanan hidupnya, prestasinya yang gemilang membuat kemenangan-kemenangan diraih.Kemenangan yang diraih Elang, antara lain, juara pidato bahasa Sunda se-Kota Bogor tahun 2000, juara harapan pertama Lomba Cepat Tepat Sri Baduga se-Jawa Barat, dan kemenangan yang tak pernah dilupakannya adalah juara Java Economics FEM IPB se-Jawa 2003.Lumayan juga semua kemenangan ini karena setiap kemenangan selalu bernilai rupiah yang cukup membuatnya semangat. Elang pun menjadikan uang itu sebagai modal untuk kuliah.Bahkan, sebagian uang itu digunakan Elang untuk modal berjualan sepatu. Namun, usaha ini hampir membuatnya habis-habisan karena dia hampir saja tertipu jutaan rupiah.Semakin dewasa bertumbuh, Elang semakin mengubah arah tujuannya. Di masa-masa kuliah, Elang bukan hanya berpikir bagaimana bisa menghidupi dirinya sendiri, tetapi mulai mengajak rekan-rekan sekampusnya untuk sama-sama merebut kesuksesan.Sekali lagi, menurut Elang, semua ini serba kebetulan. Alhasil, gagasan-gagasan kewirausahaannya pun mudah diterima rekan-rekan sekampusnya. Selain bisnis properti kecil-kecilan, mulailah dia merintis usaha kursus bahasa Inggris di lingkungan sekitar kampus IPB.Elang pun tanpa sungkan mengisahkan dirinya pernah menjadi pemasok lampu di kampusnya. Modalnya cuma daftar harga yang diperoleh dari salah satu pabrik lampu terkenal.Kerja dengan otot mungkin lebih banyak digunakan daripada dengan otak. Begitulah Elang ketika mengisahkan masa-masa kuliahnya yang sebagian digunakan untuk berjualan minyak goreng. Puluhan jeriken dicuci bersih, diisi minyak goreng curah, lalu dikirim ke Pasar Anyar dan Cimanggu, Bogor.

“Tapi bagi saya, yang paling unik tetaplah merintis pembangunan rumah untuk rakyat miskin,” tegas Elang.Awalnya diremehkanDeretan rumah mungil yang didirikannya bersama lima temannya itu sebenarnya diperuntukkan bagi keluarga-keluarga miskin, terutama warga di sekitar perkampungan itu.Subsidi dari Kementrian Negara Perumahan Rakyat membuat rumah seluas 22 meter yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi dapat ditawarkan cuma Rp 25 juta dan Rp 37 juta per setiap unit.”Murah banget, tetapi lucunya orang-orang kota juga sangat berminat terhadap rumah-rumah ini, bahkan tahap awal pembangunan 45 rumah sudah habis terjual,” ujar Elang.Susahnya berurusan dengan bank dirasakan pula oleh Elang. Sebagai mahasiswa biasa, perbankan tampaknya enggan memberikan bantuan modal. Padahal, prospek usahanya diyakini sangat jelas, rumah selalu saja ada permintaannya.”Itulah nasib orang muda. Mereka sulit diberi kesempatan untuk merintis sesuatu yang dinilai mulia. Orang bank bilang, lebih baik kami kasih modal ke tukang gorengan daripada ke mahasiswa,” kata Elang, menirukan ucapan seorang staf sebuah bank.Tak ada rotan, akarpun jadi. Tanpa kenal menyerah, akhirnya Elang mengajak patungan teman-temannya. hasilnya, dengan modal Rp 340 juta, mereka merintis pembangunan rumah sehat sederhana.Sekali lagi, rumah-rumah yang dibangunnya itu mendapat dukungan subsidi dari pemerintah karena fokus perhatiannya adalah untuk si miskin berpenghasilan rendah.”Kita bisa menjadi pengusaha sejati kalau bisa dipercaya oleh rekan terdekat kita. Karena itu, tanpa bantuan perbankan, usahanya mulai beralih menjadi semacam perusahaan terbuka. Modalnya, ya siapa yang mau ikutan patungan, ya silahkan saja. Keuntungannya pasti bisa dibicarakan,” ujar Elang.Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu, modalnya diputar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri. Belakangan ini Elang justru dijuluki “Juragan RSS” ala Bogor oleh penduduk setempat.

Distributed by Dedicated Servers